Popularitas itu menggiurkan. Dianggap sebagai seleb itu membanggakan.
Dan, kini kita berada di era siapa pun punya peluang untuk menjadi popular. Ajang lomba nyanyi di tv, yang meledak di seluruh penjuru dunia, melahirkan artis dari orang-orang biasa, yang via jalur normal nyaris mustahil menjadi artis. Youtube melahirkan penyayi baru, orang beken baru, seleb yang dengan cara biasa nyaris tak mungkin terkenal. Demikian pula blog, yang memunculkan wajah-wajah baru yang punya kualitas untuk menjadi idola.
Bagi yang tak bisa berkarya via Youtube (membuat lagu, membuat video, lipsing, dan lainnya) atau via blog (membuat konten tulis, foto, video) kini terbuka peluang menjadi seleb baru via kata-kata sependek 140 karakter. Ngetwit 140 karakter tak sesulit membuat tulisan di blog, atau membuat lagu dan video di Youtube. Sederhananya, siapa saja bisa ngetwit. Itu sebabnya, jalur pupoler via Twitter lebih terbuka bagi siapa saja.
Ciri popularitas di Twitter, salah satunya, adalah jumlah follower yang banyak. Pengguna biasa, rata-rata memiliki kurang dari 500 follower. Tembus seribu follower itu sudah tergolong bagus untuk pengguna biasa. Maka ketika angkanya sudah menembus puluhan ribu, atau malah ratusan ribu, pengguna Twitter biasa itu sudah masuk sebagai seleb baru di Twitter. Jangan bandingkan dengan artis, yang memang sudah punya fans sejak mereka belum punya akun Twitter. Begitu punya akun Twitter, fansnya di dunia nyata akan menfollownya, jumlah followernya akan meledak dan cepat menembus angka 100 ribu dan terus bergerak naik sesuai dengan tingkat popularitasnya.
Menjadi seleb di Twitter banyak benefitnya. Popularitasnya bisa memberikan efek finasial, antara lain dengan menjadi buzzer. Tapi, tanpa efek finansial pun, popularitas sudah cukup menggoda orang biasa. Itu sebabnya, pertanyaan bagaimana menambah jumlah follower, keinginan di-follow-back, sudah lumrah di jejaring informasi ini.
Banyak tips untuk menambah jumlah follower. Tetapi, bagi yang tak sabar dan punya uang, ada yang kemudian memilih membeli follower.
Sah-sah saja membeli follower.
Tapi …..
Tapi sekarang kita semua tahu, follower yang dibeli itu kebanyakan follower palsu (fake followers). Bukan follower sejati, yang menfollow karena suka dengan isi twit kita.
Membeli follower itu ibarat kita menyayi di panggung, dan sebagian besar penontonnya bayaran atau malah boneka yang didandani mirip orang hidup. Penonton bayaran itu tidak perlu kenal kita, tak harus suka dengan lagu dan suara kita. Barangkali mereka juga tidak mendengarkan kita. Telinganya ditutup. Mereka hanya tertarik dengan bayarannya.
Apakah kita enak berkicau di Twitter, dengan follower sangat banyak, tapi mereka tak membaca dan tak merespon? Apa enaknya berbagi cerita di Twitter, meski banyak sekali followernya, tapi sebagian besar adalah bot?
Menjadi diri sendiri di Twitter, dengan follower nyata yang saling berinteraksi, jauh lebih bermanfaat daripada dikira selebtwit tapi sebagian besar followernya palsu.
Bagi yang tetap ingin membangun popularitas di Twitter, praktekkan berbagai tips yang banyak bertebaran di Internet, asal bukan membeli follower.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar