Zahra sedang berusaha membuka pintu gudang yang terkunci. Huh, dia sudah berusaha mendobraknya selama 19 kali. Dan, ini adalah yang ke 20 kalinya. Rahma mengunci dia dan Indah dia sebuah gudang kotor sekolah yang sudah lama tidak terurus. Indah sudah batuk-batuk karena gak tahan dengan baunya gudang itu. Sedangkan Zahra terus mencoba mendobrak pintu sambil berteriak minta tolong.
"TOLONGGGGGGGG SIAPAPUN ITUUUUU TOLONGGGGGGG" teriak Zahra sambil mendobrak pintu dengan keras. Padahal, Syifa sudah berdiri didepan pintu gudang. Ya, dia gak bisa berbuat apapun karena Rahma menyakitinya. Hidungnya berdarah, bajunya agak robek, dan pipinya lebam.
"Zah, apa kamu bisa berhenti berteriak? Kupingku hampir berdarah tahu!" bentak Syifa sambil berusaha mencari kunci gudang dengan kesulitan.
"Nggak bisa Syif, si Indah udah batuk-batuk gitu, cari bantuan jih! Kalau enggak, si Indah bakalan pingsan disini! Lagian, kamu nggak ada kerjaan kan?" tanya Zahra sambil mendobrak lagi.
"Oke, akan aku coba, tapi, si Rahma ngejagain tuh, dideket ruang guru! Mau kemana coba?" tanya Syifa lagi.
"Ahhhhhrrrrrrrgggggg!!!!!!" Zahra berteriak kencang mengumpulkan tenaganya untuk mendobrak pintu.
"Yeahhhhhh aku berhasil! Indah, cepat keluarrrrr" teriak Zahra lagi.
Zahra dan Indah pun keluar dari gudang sekolah yang bener-bener sumpek. Asthma Indah kambuh. Zahra membopongnya menuju UKS. Tapi, Rahma menjaga ruang itu. Zahra mendesah. Dia tak tahu apa yang harus dilakukannya.
Akhirnya, mereka dengan langkah hati-hati dan tidak yakin, berjalan menuju UKS dan berakting tidak mempedulikan Rahma. Ketika mereka sampai di depan pintu, Rahma mencegat mereka sambil melotot ke arah Indah.
"Masih berani loeeee????? Hahhh??" tanya Rahma sambil menghentakkan kakinya keras.
Mereka terdiam. Lalu mulai berbisik-bisik, dan berjalan melewati Rahma yang sudah panas saking marahnya.
"Segampang itu?" tanya Zahra sambil tersenyum senang.
"Yeah!!! We're can, if we're want!!!" kata mereka sambil berpelukan.
"Masih berani loeeee????? Hahhh??" tanya Rahma sambil menghentakkan kakinya keras.
Mereka terdiam. Lalu mulai berbisik-bisik, dan berjalan melewati Rahma yang sudah panas saking marahnya.
"Segampang itu?" tanya Zahra sambil tersenyum senang.
"Yeah!!! We're can, if we're want!!!" kata mereka sambil berpelukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar