Berkemah di Kiara Payung
Saat itu, matahari sudah terbit dari arah timur. Cahaya itu membuat
Syara terbangun dari tidurnya. Ia langsung beranjak dari kasur dan berjalan
menuju kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, ia membawa kopernya dan
membuka isinya. Ada 6 pasang pakaian, peralatan mandi, peralatan makan, minum,
peralatan memasak, snack, sosis mentah, nugget mentah, kornet mentah, minuman, makanan berat, pewangi, beras,
bedak, sisir, syal, jaket, handphone, charger, dan cermin. Hari Minggu ini, ia
akan berkemah tepatnya pada pukul 12.00 WIB. Ia harus sampai disana.
Sebenarnya, ia tidak menginginkannya. Tapi, karena Ibu yang
memaksa, ia ikut ke acara itu. Syara duduk di sofa ruang tengah sambil menonton
TV. Liburan kali ini akan terasa berbeda pastinya. Karena Syara baru pertama
kali berkemah dengan orang-orang yang tidak diketahuinya. Ia pasti akan lebih
disiplin. Mungkin juga ia akan mendapat teman baru. Dan kemah itu bisa jadi
mengasyik-kan. Tapi, jika ia tak dapat teman baru, pasti ia akan protes kepada
Ibu dan menyuruh Ibu agar tidak mendaftarkan-nya lagi ke Perkemahan Kiara
Payung itu.
“Syara, jangan males! Cepat mandi dan makan!” seru Ibu yang
disambut anggukan Syara. Dan ia pun pergi menuju kamarnya dan mandi. Selesai
mandi, ia turun ke ruang makan dan bergegas mengambil santapan hari ini. Wajah
Syara memang sangat gembira hari itu tapi, Perkemahan itu jauh menyenangkan.
Dan tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB. Karena tempatnya jauh,
ia harus segera berangkat. Tentunya agar tidak telat.
“Ayo nak!!! Cepat turun, ambil kopermu dan pakai kerudung!!!” seru
Ibu dari garasi.
“Ya, Syara turun,” ucap Syara lalu bergegas mengambil koper,
memakai kerudung, jaket, dan kaos kaki.
Bruuk… suara pintu mobil di tutup. Syara duduk dengan tenang.
Sedangkan Ibunya menyetir.
“Bu, Perkemahan Kiara Payung itu dimana sih?” tanya Syara sambil
membenarkan kerudungnya.
“Di alam terbuka,” jawab Ibu santai.
Huh, Ibu gak ngasih tahu! Licik banget! Batin Syara dalam hati. Perjalanan itu sangat jauh, bahkan
jalannya pun tidak Syara ketahui. Melewati sungai, pepohonan tinggi, hutan, dan
para hewan yang sangat aneh! Tapi Ibunya malah tetap santai dan tambah ngebut.
“Bu, ini bukan Ibu ya? Kok jalannya kesini sih?” tanya Syara
ketakutan.
“Sayang, ini Ibu, jalannya kayak gini karena Ibu terpaksa ambil
jalan ini. Ini arah ke perkemahan Kiara Payung kok! Lihat petanya!” jawab Ibu
sambil tersenyum dan memberikan petanya kepada Syara.
“Iya, sih, tapi Syara takut,” ucap Syara setelah melihat petanya.
Sedangkan Ibu tak menjawab. Mungkin tak terdengar karena Syara hanya berucap
kecil.
Tak terasa, jalan berkelok-kelok dan jelek itu sudah dilalui dan
akhirnya Syara sampai kesana. Udara yang sejuk menyambutnya. Sudah ada puluhan
anak bahkan ratusan disana. Bahkan tenda pun sudah didirikan. Kira-kira ada 60 tenda yang besar disana.
“Hati-hati sayang, Ibu akan telepon kamu, atau kirim pesan ya, jaga
diri kamu baik-baik, ini uang jika kamu perlu. Assalamu’alaikum, Ibu akan jemput
Minggu depan hari Senin,” ucap Ibu sambil meninggalkan Syara dan tadi memberi
uang Rp.200.000,00. Dan Syara tidak hanya diam. Ia berlari sekencang-kencangnya
menuju Ibu dan memeluknya sangat erat.
“Ibu, Syara gak mau ditinggal, anterin dulu ke perkemahan,” ucap
Syara manja. Dan Ibu memenuhi permintaan Syara. Lalu Ibu mendaftar ulang Syara
untuk masuk ke Perkemahan itu.
“Nanti diumumkan kamu sekelompok dengan siapa, jaga diri baik-baik
ya, Ibu pergi dulu, Assalamu’alaikum, ini koper kamu! Simpan ya,” ucap Ibu
sambil pergi menuju mobil dan mobil pun melaju dengan cepat meninggalkan Syara
yang masih terdiam menatap Perkemahan itu.
“Hai!!!!!!!!” seru seorang anak perempuan yang sangat lucu. Dia
lebih tinggi dari pada Syara.
“Ehm, hai, siapa ya?” tanya Syara sambil menatap anak itu.
“Aku Anggia, kamu?” katanya sambil mengulurkan tangan.
“Aku Syara, senang bertemu denganmu,” ucap Syara sambil menjabat
tangan Anggia.
Anggia segera menarik tangan Syara masuk ke Perkemahan Kiara
Payung. Sesampainya disana, Anggia mengambil koper Syara dan menyimpannya disamping
kopernya. “Disini nih, tempat dimana semua anak menyimpan koper mereka. Mungkin
5 menit lagi akan dibagi kelompok deh! Ayo kita berbaris seperti apa yang
mereka lakukan!” seru Anggia sambil berlari menuju barisan itu diikuti Syara.
“Baik Anak-anak, jika kalian ingin melihat kelompok kalian
masing-masing, silahkan lihat disebelah kanan pos pelayanan dan ada papan
pengumuman kelompok disana” ucap seorang wanita dewasa yang berbicara melalui
pengeras suara.
Para Anak-anak itu langsung berlarian ke arah kanan pos pelayanan
dan melihat papan pengumuman. Setelah mereka mengetahui, mereka pun menyimpan
koper mereka ke tenda masing-masing. Syara berada dalam tenda ke-45. Letaknya cukup
jauh. Tapi, tenda 60 lebih jauh lagi. Syara mengambil kopernya lalu menyimpannya
di tenda 45. Dikelompok 45, ada Tyas, Difa, Kaira, Arin, Airin, Syara, Fia,
Aulia, Zahra, Elfina, dan Rivani. Pembimbingnya adalah Kak Nurul. Oh iya, semua
orang yang ikut Perkemahan ini ada 600 orang. Dan setiap kelompok ada 10 orang.
Setelah semua anak siap, mereka berbaris kembali. “Perhatian,
tolong dengarkan! Pada pukul 14.00 WIB ini akan diadakan Lomba Kejujuran pada
setiap kelompok di puncak gunung, semua kelompok harus mengikuti lomba ini,
jika tidak, kelompok itu harus ke puncak gunung sendirian.” ucap panitia yang
bernama Kak Hena. Semua kelompok diberi penjelasan yang jelas, peta, dan kompas
untuk penunjuk arah. Syara begitu tegang karena takut kehilangan kelompoknya.
Tapi, ia menampakkan wajah tenang.
“Oke! Disana, ada 10 pos yang akan kalian lalui. Kalian akan diberi
pertanyaan. Jika kalian bisa, kalian dapat melanjutkan ke pos 2, tapi, jika
tidak, kalian akan terus berada dalam pos 1. Ini semua akan melatih
kedisiplinan dan kepintaran kalian. Silahkan pergi melalui arah utara! Nanti
ada petunjuk jalan yang bertuliskan nama pos. Misalnya ada tanda panah menunjuk
ke arah kiri dan bertuliskan Pos 1. Maka, disanalah pos 1. Mengerti?” jelas Kak
Yoki. Semua kelompok 45 mengangguk. Mereka pun berbaris sambil berjalan.
“Kita akan ke arah utara!” seru Rivani. Dia sudah dipilih menjadi
ketua kelompok. Semua anggota mengangguk dan melanjutkan perjalanan. Setelah
mengamati peta, ternyata jalan yang mereka lalui benar. Dan memang ada panah
menunjukkan arah kanan yang bertuliskan POS 1. Mereka segera ke arah kanan dan
terdapat tempat duduk dari batu yang sudah melapuk, diatasnya telah duduk panitia.
“Kalian mengikuti arah yang benar, ayo kita tantang mereka!” seru Kak Jina
kepada Kak Hena.
“Kami akan menyuruh kalian untuk mencari peta menuju pos 2 di dekat
kuburan itu! Ayo cepat cari!” kata Kak Hena. Mereka pun segera menuju kuburan.
Disana hanya ada 4-8 makam. Jadi, rasanya gampang ya? Tapi, karena ada banyak
rumput dan ilalang yang menjulang tinggi. Jadi, mereka memelurkan waktu yang
cukup lama. Setelah 10 menit mencari, Elfani akhirnya menemukan peta menuju pos
2. Mereka segera menghampiri Kak Hena dan Kak Jina. “Ini kak!” seru Elfina
sambil menunjukkan peta itu kepada Kak Hena dan Kak Jina.
“Ok, terima kasih, kalian
bisa melanjutkan ke arah kiri” ucap Kak Jina. Mereka mengangguk dan melanjutkan
perjalanan yang sangat melelahkan itu. Mengikuti arah kiri, lalu lurus tapi
jalannya menanjak dan banyak bebatuan. Jadi, mereka sangat kesulitan untuk
berjalan. Ada juga yang sampai jatuh. Lalu setelah itu mereka belok kanan.
Kira-kira dari pos 1 ke pos 30-45 meter. Tapi, mereka tetap semangat dan terus
berjalan. Dan tak terasa, mereka dapat sampai ke pos 2.
“Ah, senangnya, bisa istirahat, sekarang jam berapa?” tanya Aulia
kepada Fia.
“Wah, kita sangat lambat! Sekarang baru jam 15.30 WIB. Karena
perjalanan ini jauh, dan kita banyak istirahat di tengah jalan, jadi, kita
terlalu lama,” jawab Fia sambil duduk di rerumputan pos 2.
“Eh, Anak-anak sudah sampai, yang cepat ya, kelompok lain ada yang
sudah menunggu di puncak gunung, tapi kelompok 46-60 masih berjalan ya?” ucap
Kak Hendra. “Iya nih, padahal udah capek!” ucap Arin dan Airin bersamaan.
Mereka kan kembar. “Ayo! Kita akan adu kepintaran antara kalian dan Kakak!”
seru Kak Farhan. Mereka mengangguk. “Ayo, siapa yang bisa jawab! Kenapa jika
kalian mengikuti kemah ini, kalian akan merasa setengah gembira dan setengah
sedih???” tanya Kak Hendra.
“Setengah gembira karena kemah ini pasti akan menyenangkan. Dan
setengah sedih karena berpisah dengan orang tua dengan jangka waktu yang cukup
lama” ucap Difa sambil tersenyum puas. “Boleh, ada lagi?” tanya Kak Farhan
sambil mencatat nilai kami. “Em, setengah gembira karena ada orang yang
disayang ikut dalam perkemahan ini. Dan setengah sedih karena setelah
mengetahui orang yang disayang itu tidak memperhatikannya!” celoteh Tyas sambil
tersenyum manis. “Boleh juga, sepertinya sudah cukup ya? Kalian boleh
melanjutkan” kata Kak Hendra sambil memberikan peta pos 3.
Mereka menjalani pos demi pos dengan bersemangat sampai akhirnya,
mereka sampai ke pos 10. Disana, mereka berpose, bermain-main, dan makan. Ada
juga yang sedang beristirahat. Setelah itu, mereka sholat disana dan pulang
pada pukul 19.30 WIB. “Hei!!!!!!!!” seru Anggia. “Hai, ada apa?” balas Syara.
“Enggak, menurut kamu, kemah ini menyenangkan gak?” tanya Anggia. “Kalau di
nikmati banget sih iya,” jawab Syara. “Oh, udah ah ayo baris sesuai kelompok
mau pulang!” ujar Anggia yang disambut anggukan Syara.
Hari pertama ini sangat menyenangkan. Mereka memiliki perjalanan
berharga pada hari pertama ini. Tidak terasa, hari kedua pun menyambut mereka.
Sekarang, mereka akan mengadakan Lomba Memasak antar kelompok. “Anak anak, ayo
bangun!!” perintah Kak Nurul pada pukul 04.00 WIB. Anak anak pun bangun dan
segera sholat tahajud berjamaah. Lalu sholat subuh. Lalu ada panitia yang
pidato mengenai kedisiplinan. Semua anak jadi terinspirasi olehnya. Ia bernama
Pak Ustman.
“Ah, segarnya!” seru Kaifa sesudah mandi dan berganti baju. “Iya,
sekarang kita akan diadakan lomba ya?” tanya Syara. Dan Kaifa mengangguk. Pagi
itu, kelompok 45 sudah sangat bersemangat. Mereka sudah menyiapkan segala
peralatan memasak dan bahan-bahan untuk memasak. Dan mereka sudah berdoa agar
mereka jadi juara. Sepertinya kemah ini sangat menyenangkan ya?? Sampai-sampai
saking gembiranya Syara pun menghayal yang tidak mungkin terjadi. Yaitu, hadiah
pemenang lomba memasak adalah komputer tablet. Tidak mungkin bukan??
Ceritanya sih, mereka akan memasak nasi goreng campur sosis dan
kornet, dan rencana mereka berjalan lancar. Pagi itu, mereka mengambil kompor
kecil untuk menggoreng. Siduk, piring, sendok, bumbu racik, nasi, garam, telur,
sosis, bawang merah, dan kornet. Tyas, Difa, dan Kaifa bagian memotong, Arin,
Airin, dan Syara bagian menggoreng, sisanya memasukkan nasi goreng itu ke
piring dan menghiasnya. Kecuali Rivani, dia sedang sakit dan masuk angin, jadi
dia berada di tenda guru. Sekarang, mereka sedang asyik-asyiknya membuat nasi
goreng itu. Mereka menggoreng sambil bermain.
Senang sekali rasanya. Tak terasa, siang pun datang. Para juri
sudah memutuskan bahwa waktu memasak sudah habis. Sekarang, para juri akan
mencicipi masakan per kelompok. Dari kelompok 1-60. Oh iya, disana ada 10 juri
yang akan mencicipi masakan. Setiap kelompok dicicipi oleh 1 juri. Jadi,
waktunya tidak terlalu lama. Setelah itu, mereka makan bersama dan jalan-jalan
di sekitar area Kiara Payung. Setelah merasa capek, panitia membolehkan untuk
beristirahat selama 1 jam 15 menit. Dan mereka menggunakan waktu itu sebaik mungkin.
“Ayo! Kita harus disiplin! Tepat pada waktunya dan jangan
bermalas-malasan!” seru Rivani. Mereka pun segera keluar dari tenda. Lalu
memasak air, menggoreng makanan untuk sore nanti dan membuat camilan. Mereka
sangat lelah, belum lagi sore nanti akan ada permainan yang seru. Tak terasa,
mereka sudah selesai memasak. Waktu menunjukkan pukul 09.30 WIB. Dan ini waktunya
untuk tidur. Tapi, karena sekarang ada pidato tentang kedisiplinan pada kemah,
jadi mereka tidur pukul 21.30 WIB. Dan setelah pidato, mereka pun tertidur di
tenda masing-masing.
“Anak-anak diharap berbaris
di lapangan!!!! Akan diadakan permainan!!!!” ucap Kak Farhan pada pagi yang
sejuk ini. Semua anak pun berbaris. “Kita akan melakukan pelatihan baris
berbaris, olahraga, dan permainan lain. Diharapkan semua anak memakai kaos!
Karena kita akan berenang di sungai!” seru Kak Suhud. Semua anak bersorak senang.
Ada yang berlari sambil memeluk temannya, ada yang melompat-lompat, ada yang
tersenyum saja, dan lain lain.
Pembina setiap kelompok pun melatih mereka untuk baris berbaris.
Selama 1 jam, mereka melakukan itu. Setelah itu, mereka berolahraga dengan lari
pagi selama 30 menit. Dan mereka akhirnya sampai di sungai. “Ayo!!!
Semangat!!!! Ini melatih kedisiplinan kalian!!!” seru Kak Latif. Semua anak
semakin bersemangat. Dan menambah kecepatan mereka. Setelah 30 menit, mereka
pun sampai di sungai. Tapi karena sungainya tak mampu untuk menampung anak yang
berjumlah 600 orang itu, jadi, hanya 1 kelompok per kelompok menuju kesana.
Syara sangat senang, ini petualangan yang sangat menegangkan.
“Aku senanggggggggg sekali!!! Gak rugi deh masuk kesini.” ucap
Syara sambil tersenyum manis kepada semua anggota kelompoknya. Karena ada 60
kelompok, jadi, kelompok Syara harus menunggu lama. Setiap kelompok hanya boleh
berenang selama 15 menit. Ya, cukup singkat. Walaupun begitu, mereka tetap
bersyukur Karena masih dapat berenang. Walaupun dengan waktu yang singkat.
Setelah sekian lama menunggu, mereka akhirnya kebagian juga, dan mereka
mengabadikannya dengan berpose di sungai itu.
Kring … kring … handphone Syara berbunyi. Ternyata, ada telepon
dari Ibu. “Halo! maaf ya Ibu, Syara lagi sibuk berenang, nanti Syara telepon
balik! Dadah,” ucap Syara sambil memberikan handphonenya pada Kak Nurul.
Pembina kelompok 45. Mereka pun bersenang-senang sampai tak terasa waktunya
sudah habis. Mereka naik dan pulang ke perkemahan. Hati mereka sangat senang
saat itu. Tak lupa, Syara menelepon balik Ibunya dan memberitahu kabarnya.
Setelah sampai, mereka mandi karena pakaian yang dikenakan mereka
sudah basah terkena air. Dan tanpa terasa, hari ketiga sudah menyambut.
Sekarang ini, akan diadakan lomba baris berbaris, main lumpur, jaring
laba-laba, morse, dan semapur. Lomba itu diadakan pada pukul 11.00 – selesai.
Dan yang telat datang akan dihukum dan tidak boleh mengikuti lomba tersebut.
Setiap detik, menit, dan jam mereka lewati dengan penuh keceriaan. Dan sangat
tidak mereka rasakan, pukul 11.00 pun sudah datang. Mereka segera berkumpul di
lapangan dan membuat strategi agar bisa menang.
Pertama baris berbaris, tidak sulit sih, bagi mereka. Lalu main
lumpur. Yaitu, mereka membuat benteng pertahanan. Dan musuh akan menyerang.
Dengan segera mereka menembak musuh dengan lumpur itu sampai terjatuh. Lalu,
jaring laba-laba. Permainan itu ialah setiap anggota harus loncat pada 1 lubang
tertentu dan tidak boleh kena. Lalu morse, yaitu huruf dengan peluit. Dan
terakhir, huruf memakai bendera. Menyenangkan bukan? Ya, pasti. Mereka
menikmati semua itu. Sampai akhirnya, kemah itu berakhir. Mereka pun harus
pulang ke rumah masing masing. Oh iya, kelompok 45 memenangkan Perlombaan
Memasak lho! Dan hadiahnya hanya 1 bungkus biskuat.
“Syara!!!!!!!!!!! Ibu kangen!!!!!!!!” ucap Ibu sambil memeluk
Syara. Akhirnya, Syara pun pulang dengan Ibunya. Sesampainya di rumah, Syara
jadi giat belajar, Ia suka cuci piring, menyapu, mengepel, rajin ibadah, dan
hormat kepada orang tua. Itu semua karena kedisiplinan yang diajarkan pada
kemah. Ya, dan akhirnya, Syara memiliki sifat itu. Sifat disiplin, yang dulu
didambakannya, sekarang terwujud.
Kita bisa melakukannya. Bukan hanya dengan mengadakan kemah tapi
kita juga bisa mulai dari diri sendiri. Itu tergantung kemauan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar