Minggu, 07 Oktober 2012

Menulis Itu Gampang


Semenjak saya rutin menulis blog Internet Marketing, Strategy & Business di blog korporat Virtual Consulting, banyak yang bertanya bagaimana sih cara menulis yang baik. Saya sesungguhnya bukan penulis piawai. Kalau dibandingkan dengan tulisan renyah sesama blogger, Yodhia Antariksa, yang mengasuh blog Strategi+Manajemen, tulisan saya terasa hambar. Atau, bandingkan dengan Ucu Agustin, yang begitu puitis dan dalam. Atau bandingkan dengan Vandi yang masih SMP kelas 2 saat ini, tulisan saya biasa saja. Jadi agak malu juga berbagi di sini. Tapi, daripada menjawab satu-satu dan personal, saya coba tuliskan di sini, siapa tahu lebih bermanfaat bagi yang lain. Syukur-syukur kedua orang yang saya sebutkan di atas mau berbagi di sini juga. Jika Arswendo pernah menulis buku “Mengarang itu Gampang” — dalam kaitannya dengan penulisan buku, cerpen, dan sejenisnya, maka saya ingin menulis “Menulis itu Gampang” dalam kaitannya dengan blog, bisnis dan sejenisnya. Menulis itu sama pentingnya dengan berkomunikasi lewat ucapan. Bahkan dalam beberapa hal, komunikasi tulisan jauh lebih mengena ketimbang ucapan. Menulis konsep, proposal, minutes meeting, laporan, perjanjian kerja sama atau membuat presentasi dan segudang keharusan menulis sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan kerja kita sekarang ini. Tak jarang, kita bisa menilai kemampuan mitra kerja, anak buah, mitra bisnis, dari tulisan mereka. Pernah dalam sebuah meeting, saya minta semuanya membuat minutes meeting. Hasilnya seperti yang saya duga: yang pintar mampu membuat minutes meeting yang ringkas, tepat dan gampang dimengerti. Yang kurang pintar, sebaliknya. Tak jarang saya menemukan orang pintar yang tidak lolos seleksi tahap awal lamaran kerja karena surat lamarannya biasa-biasa saja. Sering saya menemukan kasus proposal yang ditulis dengan baik dan menarik berhasil menyingkirkan proposal lain yang meski konsepnya sama namun ditulis kurang baik. Menulis memang kelihatannya sepele. Tapi mengapa bagi kebanyakan orang, menulis merupakan hal yang sulit meski dalam bercakap-cakap mereka tidak mengalami hambatan? Mengapa kita sering menemukan kesalahpahaman terhadap tulisan orang daripada percakapan orang? Mengapa kita merasa lebih mudah mengungkapkan dengan kata-kata ketimbang dengan tulisan? Apakah kemampuan menulis itu memang bakat, seperti halnya orang bakat bicara, pidato, negosiasi dan lain-lain? Bagaimana kita bisa lancar menuliskan apa yang ada di otak kita?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar