Minggu, 02 Juli 2017

Buat Pelajar Yang Baru Masuk SMA

Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh

Biasanya saya post cerita-cerita ya di sini. Nah, sekarang saya mau jadi kakak kelas nih di SMA, jadinya mau berbagi tips-tips buat kalian yang tahun ini baru lulus SMP dan mau melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Selamat ya! Ciee yang bentar lagi mau pakai seragam putih-abu ciee. Haha alay.


Tips saya buat kalian nih:

1. Kesan pertama itu penting
Ya udah sering denger kan emang kesan pertama itu penting. Misal pas pertama ulangan kita nyontek atau nanya atau jawab yang nanya, nanti keterusan bakal gitu. Jadi pas pertama ulangan atau ujian, tunjukkan dirimu yang jujur. Ingat, Nak! Indonesia membutuhkanmu, kejujuran adalah yang nomor satu. Di agama mana pun, bohong itu dilarang, Nak! Atas dasar alasan apapun, kamu yang tidak jujur saat ujian benar-benar salah, kembalilah ke jalan yang lurus, sadarilah dosamu, bertaubatlah. Eh, kok balah ngebahas ini? Haha maafkan.

2. Ikut ekskul yang kita minati

Please, jangan ikut ekskul gara-gara gebetan lo ada di sana atau banyak temen-temen lu yang masuk situ. This is about passion. Ea gaya banget bahasanya. Dan, usahakan ekskul yanh dipilih itu tidak menjerumuskanmu ke hal-hal yang dilarang.

3. Jangan cari muka

Ini penting banget nih, carmuk sama kayal caper gak sih? Ah pokoknya sikap kita yang baik-baik aja ya, gak usahlah pamer, sombonh ala-ala, ah... Apalah arti diri ini dibanding luasnya alam semesta, apalah?


Udah sih segitu aja. Terus saya mau lromosi akun ig gapapa ya.

kuy diklik

Minggu, 11 November 2012

Lomba Cerpen

Adik-adik, masih ingat lagu Pelangi, Bintang Kejora, dan Libur Telah Tiba? Nah, semua lagu itu karya pencipta lagu anak-anak yang sangat termasyhur, yaitu Pak A.T. Mahmud.

Mizan Productions dan Falcon Pictures akan memproduksi film musikal untuk keluarga, yang lagu-lagunya diambil dari 10 lagu karya Pak A.T. Mahmud. Judul filmnya Ambilkan Bulan, yang diambil dari salah satu karya Pak A.T. Mahmud. Film ini akan ditayangkan di liburan akhir tahun, mulai 29 Desember 2011.

Untuk menyambut film ini, kami bekerja sama dengan Kecil-Kecil Punya Karya menyelenggarakan lomba penulisan cerpen yang bisa adik-adik ikuti.

Ketentuan :
- Kelompok lomba terdiri dari Kelompok SD dan Kelompok SMP
- Berlaku untuk adik-adik berusia 6-12 tahun (Kelompok SD) dan 13-15 tahun (Kelompok SMP)
- Inspirasi cerpen berdasarkan lirik lagu Ambilkan Bulan karya A.T. Mahmud
- Kirimkan karya/cerpen tersebut ke e-mail promosi@mizan.com dengan dilengkapi data pribadi dan alamat lengkap, selambat-lambatnya pada 20 November 2011
- Panjang cerpen minimal 4-6 halaman, A4, Times New Roman , 12 points
- Setiap peserta boleh mengirim lebih dari satu cerpen, dengan inspirasi dari lagu yang berbeda
- Cerpen-cerpen yang menang akan dijadikan e-book atau buku elektronik yang akan disebarluaskan kepada - pembaca Indonesia secara gratis
- Hadiah untuk 6 karya terpilih dari masing-masing kelompok SD (3 Pemenang) dan SMP (3 Pemenang). Masing-masing akan mendapat hadiah senilai Rp1.500.000,- plus paket buku senilai @Rp.500,000,-.



Ayo adik-adik, ikuti kesempatan langka ini. Dengan mengikuti lomba ini, adik-adik juga telah ikut serta memperkenalkan kembali lagu anak-anak, yang sudah terkenal sejak ayah dan bunda kita masih muda.

Lirik Lagu AMBILKAN BULAN Karya AT.Mahmud


Ambilkan bulan, Bu
Ambilkan bulan, Bu
Yang bersinar terang di langit
Di langit bulan benderang
Cahyanya sampai ke bintang
Ambilkan bulan, Bu
Untuk menerangi tidurku yang lelap
Di malam g'lap

Selasa, 06 November 2012

Pai Cherry Mimi

Lagi-lagi, sepulang sekolah dengan bersemangatnya Mimi membantu Mama di dapur.

“Ma, Mimi bantu membuat pai cherry lagi, ya,” ujar Mimi sambil membantu Mama membuat adonan pai.

“Boleh. Kamu bantu Mama membuat adonannya dulu, ya. Oh iya, tumben kamu bantu Mama masak?” tanya Mama sambil mengusap lembut rambut Mimi yang panjang sebahu.

“Hehe, habisnya Mimi suka sekali sama pai yang Mama buat kemarin. Jadi, penasaran,” jawab Mimi sambil menyiapkan cetakan. Ia mencampur mentega, tepung, kuning telur, tepung terigu, garam dan beberapa sendok baking powder sesuai dengan arahan Mama.

“Wah, kelihatannya pai cherry -nya enak, nih, Ma,” celetuk Mimi sambil memasukkan adonan ke loyang. Setelah adonan dimasukkan ke loyang pai, Mama membantu Mimi memasukkannya ke dalam oven. Mimi dan Mama mengadu tos.

“Hihi, nanti pai ini mau aku bawa ke sekolah. Biar teman-teman bisa ikut mencobanya. Bolehkan, Ma?” usul Mimi.

“Boleh, dong,” jawab Mama. Setelah adonan dikeluarkan, Mama segera mengoleskan vla atau krim di atas painya dan tidak ketinggalan si merah buah cherry .

“Slurpp...” Mimi tergiur melihat pai buatannya dan Mama. Ia meraih sepotong dari baki yang ada di meja.

“Masakan Mama mengalahkan chef yang ada di teve, lho. Maknyuss…” puji Mimi.

“Mamanya siapa dulu, dong? Mamanya Mimi!” goda Mama sambil mencubit gemas pipi putrinya itu.

Esoknya, Mimi membawa bekal pai cherry buatannya dan Mama ke sekolah. Ia sudah tidak sabar membaginya dengan teman-teman.

“Dea, Andi, Manda, nanti cicip bekal aku, ya,” kata Mimi sambil menghampiri teman-temannya di kelas.

“Wah...tumben nih, Mimi mau bagi-bagi bekalnya,” celetuk Manda.

“Kebetulan, kemarin mamaku masak sesuatu…yang special tentunya,” kata Mimi setengah berbisik. Teman-temannya jadi penasaran.

“Yahh, Mimi kasih tahu sekarang, dong!” Andi kecewa.

“Eitss, nanti dulu dong biar jadi kejutan,” kata Mimi sambil menaruh tasnya di bangku kelas. Keempat sahabat itu melangkah keluar kelas, karena sebentar lagi sekolah akan mengadakan senam bersama.

"Teettt! Tettt!" Bel sekolah berbunyi. Anak-anak dari kelas satu sampai kelas enam berhamburan. Begitu pula kelas Mimi, kelas 4C.

“Mi, kamu masih ingat, kan, janjimu?” tanya Dea yang sudah tidak sabar mencicipi bekal Mimi. Wah..wahh..ketiga temannya sudah terlanjur tergiur dengan tawaran Mimi.

“Iya...iya, sabar. Kita ke kantin dulu, yuk!” ajak Mimi. Mereka mengisi bangku kosong yang ada di kantin. Lalu mereka makan bersama. Duh...duh...Andi ia langsung merebut kotak bekal Mimi.

“Biar aku yang buka, deh,” tawarnya. Deni datang dan segera bergabung bersama keempat sahabatnya itu.

“Ehh...ada apa, nih? Ramai sekali.” Deni kebingungan.

“Ini, nih. Mimi mau bagi-bagi bekal. Katanya spesial,” cerita Manda.

“Ya sudah, ayo kita makan sama-sama,” ujar Deni. Andi membuka kotak bekal Mimi. Untung saja, painya ada enam. Mimi berharap teman-temannya tidak kecewa.

“Wah...Mimi! Mama kamu pintar masak, ya?” tanya Dea.

“Iya, kemarin aku juga ikut bantu, kok,” jawab Mimi. Semua teman-temannya memuji kelezatan pai buatan Mimi dan mamanya. Mereka pun makan bersama.

Sekolah Asrama Khusus Putri part 4

Zahra sedang berusaha membuka pintu gudang yang terkunci. Huh, dia sudah berusaha mendobraknya selama 19 kali. Dan, ini adalah yang ke 20 kalinya. Rahma mengunci dia dan Indah dia sebuah gudang kotor sekolah yang sudah lama tidak terurus. Indah sudah batuk-batuk karena gak tahan dengan baunya gudang itu. Sedangkan Zahra terus mencoba mendobrak pintu sambil berteriak minta tolong.
"TOLONGGGGGGGG SIAPAPUN ITUUUUU TOLONGGGGGGG" teriak Zahra sambil mendobrak pintu dengan keras. Padahal, Syifa sudah berdiri didepan pintu gudang. Ya, dia gak bisa berbuat apapun karena Rahma menyakitinya. Hidungnya berdarah, bajunya agak robek, dan pipinya lebam.
"Zah, apa kamu bisa berhenti berteriak? Kupingku hampir berdarah tahu!" bentak Syifa sambil berusaha mencari kunci gudang dengan kesulitan.
"Nggak bisa Syif, si Indah udah batuk-batuk gitu, cari bantuan jih! Kalau enggak, si Indah bakalan pingsan disini! Lagian, kamu nggak ada kerjaan kan?" tanya Zahra sambil mendobrak lagi.
"Oke, akan aku coba, tapi, si Rahma ngejagain tuh, dideket ruang guru! Mau kemana coba?" tanya Syifa lagi.
"Ahhhhhrrrrrrrgggggg!!!!!!" Zahra berteriak kencang mengumpulkan tenaganya untuk mendobrak pintu.
"Yeahhhhhh aku berhasil! Indah, cepat keluarrrrr" teriak Zahra lagi.
Zahra dan Indah pun keluar dari gudang sekolah yang bener-bener sumpek. Asthma Indah kambuh. Zahra membopongnya menuju UKS. Tapi, Rahma menjaga ruang itu. Zahra mendesah. Dia tak tahu apa yang harus dilakukannya.
Akhirnya, mereka dengan langkah hati-hati dan tidak yakin, berjalan menuju  UKS dan berakting tidak mempedulikan Rahma. Ketika mereka sampai di depan pintu, Rahma mencegat mereka sambil melotot ke arah Indah.
"Masih berani loeeee????? Hahhh??" tanya Rahma sambil menghentakkan kakinya keras.
Mereka terdiam. Lalu mulai berbisik-bisik, dan berjalan melewati Rahma yang sudah panas saking marahnya.
"Segampang itu?" tanya Zahra sambil tersenyum senang.
"Yeah!!! We're can, if we're want!!!" kata mereka sambil berpelukan.

Minggu, 04 November 2012

Iri Hati

-- Fairy School --

"Hai, Fanes!" Flowy menyapa Fanes yang sedang bermain twitter di HP Samsung Galaxy Mini-nya.

"Eh, Flowy. Gimana, keren gak twitter, facebook, skype -nya ?" Fanes menggoda.

"Keren, dong! Sekarang aku udah punya 81 followers . Banyak banget, kan? Itu hanya dalam waktu se-ha-ri! Bayangin, deh," Flowy mengatakan dengan bangga. Fanes berdecak kagum. Mereka masih asik saja ngobrol tentang media sosial, ngomong tentang tweets terbaru, artis-artis terpopuler, dll.

-- Flowy's Bed Room --

Setiba di rumah, Flowy langsung mandi, memakai baju santai, dan menyalakan laptopnya. Muncullah wallpaper Jessica (SNSD) dan adiknya, Crystal. Flowy memang penggemar beratnya Jessica SNSD. Karena masih penasaran dengan Bobo Online , akhirnya Flowy mengetik website Bobo Online dengan cekatan. KLIK! Setelah muncul, Flowy membuat account di Bobo Online , dan mengisi profilnya. Flowy mengisi nama, kelas, nama sekolah, alamat, dan e-mail-nya.

Setelah semuanya beres, Flowy langsung mengklik Klinik Cerita . Tanpa berlama-lama, Flowy langsung mengklik Kirim Tulisan . Flowy langsung mengetikkan semua ceritanya. Dalam sejam, sudah ada 9 naskah ceritanya. Tinggal ditunggu terbitannya. Flowy liat, belum ada yang dari Fairy School . Jadi, dia merasa orang pertama yang mengirim tulisan dari Fairy School. Tapi, dugaannya meleset...

-- Fairy School --

"Fanes, Fanes! Liat deh, sudah ada 9 naskahku yang diterbitkan. Semuanya punya score yang tinggi-tinggi lagi!" Flowy berseru kegirangan menjumpai sahabatnya itu.

"Oh ya? Ouuh...ter-baik (Logat BoBoiBoy)." Flowy heran dengan sikap Fanes. Kenapa dia begitu cuek? Keadaan ini terus berulang-ulang seiring bertambah banyak naskah Flowy yang diterbitkan. 49 naskah yang diterbitkan dalam sebulan. Fanes tetap cuek terhadapnya, dan...tidak pernah ngobrol dengan Flowy. Sampai..

"Kata Miss Kyle, di loker Fanes ada buku absen dan buku nilai. Hm..." Flowy bergumam sendiri sambil menuju loker Fanes. Dengan mudah Flowy membuka password loker Fanes karena sudah diberi tahu oleh Fanes dari dulu. Saat mencari-cari buku absen dan buku nilai, Flowy melihat semacam buku. Ya! Buku! Lebih tepatnya buku...DIARY !

Flowy mengambil perlahan buku diary itu, tidak terkunci. Flowy membacanya lembar demi lembar. Tidak ada yang menarik. Tapi, halaman terakhirnya.. Penasaran?? Diintip, yuk!

Dear Shine .. 15 Okt 2012

Hhh...hari demi hari, terjalani begitu berat. Selama ini, aku tidak pernah ngobrol dengan Flowy lagi. Aku tidak kuat menahan pedih ini. Aku iri dengan Flowy. Sudah 49 naskahnya dimuat di Bobo Online , dengan semuanya mempunyai score yang tinggi-tinggi pula. Aku nggak menyangka, Flowy sehebat itu. Tapi, dapat dibuktikan. Flowy saja sudah berpuluh-puluh kali menang lomba mengarang. Dan itu semua juara satu. Aku iri dengan Flowy, iri banget. Shine, hanya kamu tempat aku Curhat sekarang. I'm Alone ... Dan aku juga akan pindah ke Swiss hari ini, jam 12.00

Fanesia Clary Putri

--------------------------------------------------------

Flowy tertegun membaca itu. Jadi, selama ini Fanes tidak mau ngobrol dengannya karena dia iri terhadapnya? Flowy seakan tidak percaya, apa yang ditulis Fanes.

Flowy memejamkan matanya, dan membukanya. Ia melihat dunia yang sebenarnya, dia harus cepat. Dia menatap arlojinya, jam 11.00! Dari sekolahnya sampai bandara, memakan waktu setengah jam. Ia harus cepat.

Flowy segera mengantarkan buku absen dan buku nilai ke Miss Kyle.

"DRAP DRAP DRAP!!!" bunyi langkah Flowy yang bergegas meninggalkan sekolah menggema di seluruh koridor.

"Mengapa aku tidak menyadarinya dari dulu? Bodohnya diriku ini, Ya Tuhan!" Flowy terus mengumpat dirinya dalam hati.

-- Bandara Greeners Hilgh --

Flowy menatap arlojinya, jam 11.45 . Flowy terus mencari cari sosok Fanes. Flowy terus mencari, mencari. Air matanya menitik. Sekali lagi, Flowy menatap arlojinya. 12.05. Sudah lewat. Sudah pergi.

Fanes sudah pergi untuk selamanya. Angin bertiup sangat kencang menerpa rambut panjang nan bergelombang Flowy. Matanya basah terkena air mata yang tak dapat dibendung. Secarik kertas melintas tepat di depan Flowy.

"GOOD BYE and SORRY "

Air mata Flowy semakin menjadi-jadi. Flowy terduduk. Dia membenamkan mukanya dalam dalam ke pangkuannya. Ia menangis, seorang diri. Betapa teriris hatinya mengetahui keberadaan Fanes sekarang .. .. .. .. ..

THE END .. ..

*****



Gimana? Rame nggak? Makasih aja deh, buat yang udah baca! hehehehe! Ini dikutip dari majalah Bobo aku nggak tahu siapa nama pengirimnya tapi kannnnn ceritanya rameeeee oke?????? Sampai jumpa besok, semoga aku masih punya umur dehhhhhh Bye!!!!!!!!!!

Bye!

Hai temen-temen yang kece bangettttt sekarang, aku nih yaaaaaa mau ngasih cerpen gratis ke kaliann gratis lhooooooo judulnya Bye! Dibaca yaaaaaaa tapi jangan serius amat! hehehe, selamat membaca!



Aku benar-benar muak dengannya. Dia sudah sangat keterlaluan. Aku tak tahu kenapa begini, tapi, aku sudah muak dengannya. Aku heran, kenapa, para guru tidak memarahinya dan menghukumnya. Padahal, semua murid yang berlaku jahat seperti itu, pasti punya hukuman.

Dia, adalah Kasya. Awalnya sih, dia adalah seorang teman terbaikku. Tapi, aku salah besar. Dia hanya memanfaatkanku untuk menjadi populer, pintar, dan cantik. Ya, aku membantunya untuk menjadi populer di sekolahku. Aku nggak tahu kenapa, tapi memang begitu.

Aku, adalah Riana. Ya, aku cewek. Sekolah di Harniun Elementary School . Tepatnya di Jakarta. Kelas 6A adalah kelasku. Kelas para orang genius (PD banget sih, ini orang!). Kasya itu sahabatku. Dia yang menolong aku, waktu aku kesusahan di kelas 5.

Waktu kelas 5, aku punya sahabat, namanya Hisya. Dia baik sih, tapi, gara-gara aku selalu dekat dengan Kasya, dia memutuskanku dan bersahabat dengan Shofi. Aku sempat trauma dan berkata pada waktu itu ke Kasya, bahwa aku nggak akan pernah sahabatan lagi. Tapi, setelah 2 hari aku nggak ngobrol seperti anak normal, aku mau juga jadi sahabat Kasya.

Bulan Juli waktu aku pertama masuk, aku dekat banget sama dia. Pokoknya, aku nggak bisa terpisah dari dia. Karena, dia super baik banget. Begitupula pada hari-hari selanjutnya sampai bulan Oktober. Aku ngerasa ada yang salah. Tapi, aku nggak tahu apa.

Mulai dari dia menjauhiku saat aku mendekatinya, lalu menumpahkan air minumku, mencontek hasil jerih payahku, menyenggolku, memarahiku, menatapku dengan sinis, dan membicarakan aku. Ya, aku benar-benar sudah sabar. Tapi, dia selalu mengajak ribut.

Tapi, aku selalu kasihan ketika dia nggak punya teman. Aku rasa, ketika aku sedang ada di tempat ibadah bersamanya, dan kelompok kami sedang membaca. Aku sempat kaget ketika melihat wajahnya sangat marah. Dan, OMG! Dia menangis. Aku berusaha nggak peduli tapi, isakannya itu berisik sekali, dan menggangguku.

Akhirnya, jurus yang paling tepat adalah, aku harus berusaha pindah ke tempat yang lain, yang tidak berisik, karena aku nggak bisa fokus. Dia sangat menggangguku, dan membuatku kesal. Aku tahu, dia sedih karena nggak ada teman yang mendekatinya, tapi kan, kenapa harus di dekatku? Aku enggak punya salah, kan? Aku benci dia.

Aku sudah berusaha menghindar dari dia karena dia membuatku sakit hati. Dan, aku berhasil! Aku benar-benar senang saat aku bisa menjauhinya untuk menyenangkan hatiku. Bahkan, ketika dia mengejarku saat istirahat. Untungnya, aku bisa berlari dengan cepat ke arah kamar mandi sambil membaca buku. Menjijikkan! Tapi, aku terpaksa.

Aku nggak merasa kesepian karena aku punya banyak teman untuk diajak mengobrol. Tapi, aku selalu senang ketika melihat Kasya tidak mempunyai teman mengobrol. Dan mungkin, dia juga merasa senang ketika aku tidak mempunyai teman mengobrol. Tidak menyenangkan!

Salah satu temanku setelah Kasya kabur dariku adalah, Brianna. Ya, dia baik. Tapi, dia suka menggosip. Jadi, aku tidak terlau suka dengannya. Karena, dia terlalu keren untukku. Jadi, mungkin aku akan menjauh darinya karena takut disebut ketinggalan zaman.

Aku memutuskan untuk menyendiri saja dan fokus pada pelajaran yang sedang aku selesaikan. Aku takut, nilai UN milikku akan menjadi buruk. Dan ternyata, Kasya dapat mengalahkanku dalam Math Competition . Oh, aku kesal sekali!

Dan sekarang, aku benar-benar meninggalkannya. Aku pergi jauh darinya. Aku sangat senang, akhirnya, aku bisa meninggalkannya dan menyendiri lagi seperti kelas 5. Ya, menyendiri itu nggak terlalu buruk. Setidaknya, aku bisa lebih konsentrasi dan lebih memahami pelajaran.

Bye Kasya! Bye pengalaman yang sudah aku alami dengan Kasya! Aku ingin melupakannya, dan memulai hidup baruku, di sekolah baru!!! Bye !

Sabtu, 03 November 2012

I Believe

Hai temen-temen! Gimana nih, kabarnya? Lagi baik-baik aja atau buruk banget? Hahaha ... udah lama banget ya, aku gak nge-post? Sekarang, aku mau post lagi nih! Eh salah, aku gak terlalu lama kan, gak nge-post, jadi ya, aku ahhhhhhh pokoknya aku gak terlalu lama  deh yaaaaaa hahaha.

Kalian, pengunjung setia blog aku, gak bakalan lupa kan, walaupun aku udah lama banget gak nge-post, hmmm oke! To the point aja deh, aku cuma mau ngasih salah satu cerpen aku, yaitu, I Believe. Ya, judulnya I Believe. Ini gratis lho, gak perlu beliiiii ya iyalah!! Oke, ini Cerpennya!

Aku menangis dikamar malam ini. Ya, seperti malam-malam sebelumnya. Aku pun menangis. Aku dimarahi kedua orang tuaku lagi karena nilaiku jelek. Aku sebal! Sebenarnya aku tidak malas, tapi kenapa? AKU SELALU MENDAPAT NILAI DIBAWAH 60.
“Azzam! APA KAMI HARUS TERUS MEMBERI KAMU MAKAN SAMPAI KAMU TUA HAH? MAU JADI APA KAMU INI?” teriak ayah sambil melotot ke arahku. Aku hanya menunduk lemas. Aku tak sanggup lagi menahan tangis sehingga air mataku bercucuran. Sedangkan ayahku masik melotot bahkan mencoba memukulku.
“Jangan Ayah, dia masih terlalu kecil,” halang bunda sambil memelukku erat. Aku menangis dipelukannya yang begitu hangat. Bunda memang baik. Tapi, ayah terlalu keras untukku. Bayangkan, aku baru anak kelas 4. Kenapa aku harus diperlakukan seperti itu?
“Azzam, besok kamu dikirim ke rumah Bibi didesa ya, Ayahmu yang ingin seperti itu, Bunda akan selalu menyayangimu Sayang, jaga baik-baik dirimu nanti ya, ayo kita bereskan semuanya!” ajak bunda sambil merangkulku. Sedangkan aku hanya mengangguk sambil berusaha menahan tangis.
*****
“Bunda!!!!!!!!!!!!!!! Ayah!!!!!!!!!!! Jangan tinggalin aku!!!!!!!!!!” rengekku saat bunda dan ayah meninggalkanku dirumah bibi. Aku menangis sejadi-jadinya saat itu. Aku benar-benar nggak rela ninggalin bunda dan ayah. Tapi, memang harus begini, jadi, bagaimanapun itu, akan aku jalani. Maupun dengan ikhlas atau tidak ikhlas.
“Sudah Azzam, ayo masuk, sekarang sudah malam, berhentilah menangis,” ucap bibi sambil berusaha menarikku masuk ke rumahnya. Dan aku kalah.
“Tidur ya, sekolah barumu sudah menanti besok,” kata bibi sambil mengecup keningku.
Aku terkaget-kaget mendengar itu. Apa? Sekolah baru? Aku nggak mau! Pasti nilaiku jelek lagi, dan terus begitu sampai aku bakal dikirim lagi entah kemana itu sampai ada orang yang mengetahui bahwa aku sudah berusaha keras untuk belajar tapi hasilnya tidak memuaskan.
*****
Nilaiku benar-benar jelek. Aku tak tahu kenapa, tapi inilah hasilnya. Aku sudah belajar semalaman, dengan capainya, dengan sejuta peluh, tapi, hasilnya tetap sama. Selalu jelek. Nilai matematika yang aku dapat 57. Ya, aku sedih. Bagaimana tidak? Aku belajar tapi tak pernah sampai ke otak. Aku belajar tapi tak pernah mengerti. Dan mungkin akan terus seperti itu sampai aku tua. Tapi, aku berharap tidak. Tidak akan, tidak pernah sampai tua.
Pulang sekolah, aku belajar, setelah itu makan. Lalu belajar lagi, setelah itu sholat. Dan begitu seterusnya sampai aku benar-benar PUSING! Ayah tak peduli lagi denganku. Mereka pikir aku ini belajar sambil bermain-main jadi aku tidak fokus. Alhasil, mereka meninggalkanku begitu saja sampai saat ini.. Ketika terakhir kali aku mendengar ucapan ayah, dia bilang bahwa aku anak tidak tahu diri.
Sampai sekarang, ayah dan bunda belum juga menjengukku. Aku tak tahu, tapi, aku sangat rindu kepada mereka. Mungkin, sekarang mereka menyayangiku lagi atau bahkan tidak ingat aku. Ya, aku tidak tahu tapi, aku mengharapkan yang baiknya saja. Tapi, aku berharap mereka tidak akan pernah kesini lagi.
Aku senang karena aku pikir, lebih enak tinggal dirumah bibi daripada dirumahku sendiri. Karena, bibi lebih sayang padaku. Dia yang mengajarkanku berbagi hal yang menurutku luar biasa, dan dia yang selalu menyemangatiku walupun aku bodoh. Bibi belum punya anak, jadi memusatkan penuh perhatiannya kepadaku. Dan itu sangat membantuku.
“Walaupun nilaimu jelek, Bibi yakin, suatu saat nanti, kamu akan jadi yang terbaik diantara yang baik, berusaha terus ya Azzam,” nasehat bibi. Aku hanya mengangguk sembari mengulum senyum. Malam ini, aku akan belajar dengan sungguh-sungguh!
*****
Aku tertunduk lemas melihat mata bibi berkaca-kaca ketika melihat aku pergi. Aku sudah dijemput orang tuaku. Aku memang masih belum pintar tapi aku tak tahu kenapa, jadi, aku menurut saja karena aku sudah rindu pada mereka berdua.
“Besok, siap-siap ya, kamu mau dikirim ke asrama, biar kamu mandiri, biar pinter,” kata Bunda sambil memelukku erat. Aku tersentak kaget saat itu. Uh, asrama? Apa tidak salah?
Setelah sampai dirumah, aku harus bersiap-siap untuk pergi besok. Huh, aku bosan, kenapa harus diasrama? Bukankah masih banyak sekolah negeri yang bagus? Tapi, kenapa harus diasrama? Kesel deh!
Besoknya, ketika aku bangun, aku menempati bangku mobil. Persiapanku sudah lengkap. Jadi, aku sudah ada di mobil pagi ini untuk dikirim ke asrama. Huh, sebal!
*****
“Azzam!! Are you don’t learning at toninght hah?” tanya Mr. Amin sambil menatapku tajam. Ya, nilaiku 60. Naik sedikit, tapi, nilaiku yang terburuk disini. Biasanya, paling kecil untuk murid disini itu, 80.
“I’m sorry sir, I’m learning at toninght but, i don’t understand about this lesson,” jawabku pelan. Bahasa Inggrisku memang bagus tapi, untuk pelajaran lainnya, aku bingung. Termasuk, pelajaran yang sekarang aku pelajari. Matematika.
“If the next exam you have a bad score, you don’t can school in here again, don’t hope!” ancam Mr. Amin sambil membetulkan letak kacamatanya yang sedikit kebawah.
Ya Allah, semoga aku bisa, aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku ya Allah, aku nggak mau mereka terus-menerus kecewa, ya Allah, tolong aku, semoga aku bisa.
*****
“You must learning 5 hours for this toninght Azzam,” kata Ajri sambil membawakan aku buku pelajaran dan dia membantuku. Aku senang sekali karena ada yang peduli denganku.
“Always remember that,” kata Ajri lagi.
“Ok, I will remember that,” jawabku sambil tersenyum.
Kami belajar dengan sungguh-sungguh malam itu sampai aku ketiduran. Esoknya, aku langsung masuk ke kelas dan menyelesaikan ulangan dengan mudah. Kukira, pada waktu sebelumnya, AKU TIDAK BELAJAR SUNGGUH-SUNGGUH. Dan itulah yang membuat nilaiku jelek.
“I like this Azzam, you get good score,” kata Mr. Amin sambil menatapku bangga. Oh yeah! Aku bisa!
“I believe, you can get good score!” puji Ajri sambil tersenyum manis.
“Yeah. I believe too” kataku sambil keluar dari kelas Matematika. Akhirnya, aku percaya, aku bisa dapat nilai bagus.
*****
“Bunda bangga Nak,” kata Bunda sambil memelukku erat. Sedangkan ayah menatapku sambil menangis. Ya, dia mengaku salah padaku. Dan aku senang. Akhirnya, mereka mengakui bahwa aku bisa mendapat nilai yang baik. Ibu menyuruhku untuk pindah sekolah jika aku mau. Tapi, aku menolak karena aku mau disini saja. Dan tidak mau membuang uang lagi hanya untuk sekolah.



*****



Gimana temen-temen? Ceritanya rame nggak? Please commentttt pleaseeeeeeeeeeeee join grup ini juga ya!!! Bye!