Sabtu, 03 November 2012

I Believe

Hai temen-temen! Gimana nih, kabarnya? Lagi baik-baik aja atau buruk banget? Hahaha ... udah lama banget ya, aku gak nge-post? Sekarang, aku mau post lagi nih! Eh salah, aku gak terlalu lama kan, gak nge-post, jadi ya, aku ahhhhhhh pokoknya aku gak terlalu lama  deh yaaaaaa hahaha.

Kalian, pengunjung setia blog aku, gak bakalan lupa kan, walaupun aku udah lama banget gak nge-post, hmmm oke! To the point aja deh, aku cuma mau ngasih salah satu cerpen aku, yaitu, I Believe. Ya, judulnya I Believe. Ini gratis lho, gak perlu beliiiii ya iyalah!! Oke, ini Cerpennya!

Aku menangis dikamar malam ini. Ya, seperti malam-malam sebelumnya. Aku pun menangis. Aku dimarahi kedua orang tuaku lagi karena nilaiku jelek. Aku sebal! Sebenarnya aku tidak malas, tapi kenapa? AKU SELALU MENDAPAT NILAI DIBAWAH 60.
“Azzam! APA KAMI HARUS TERUS MEMBERI KAMU MAKAN SAMPAI KAMU TUA HAH? MAU JADI APA KAMU INI?” teriak ayah sambil melotot ke arahku. Aku hanya menunduk lemas. Aku tak sanggup lagi menahan tangis sehingga air mataku bercucuran. Sedangkan ayahku masik melotot bahkan mencoba memukulku.
“Jangan Ayah, dia masih terlalu kecil,” halang bunda sambil memelukku erat. Aku menangis dipelukannya yang begitu hangat. Bunda memang baik. Tapi, ayah terlalu keras untukku. Bayangkan, aku baru anak kelas 4. Kenapa aku harus diperlakukan seperti itu?
“Azzam, besok kamu dikirim ke rumah Bibi didesa ya, Ayahmu yang ingin seperti itu, Bunda akan selalu menyayangimu Sayang, jaga baik-baik dirimu nanti ya, ayo kita bereskan semuanya!” ajak bunda sambil merangkulku. Sedangkan aku hanya mengangguk sambil berusaha menahan tangis.
*****
“Bunda!!!!!!!!!!!!!!! Ayah!!!!!!!!!!! Jangan tinggalin aku!!!!!!!!!!” rengekku saat bunda dan ayah meninggalkanku dirumah bibi. Aku menangis sejadi-jadinya saat itu. Aku benar-benar nggak rela ninggalin bunda dan ayah. Tapi, memang harus begini, jadi, bagaimanapun itu, akan aku jalani. Maupun dengan ikhlas atau tidak ikhlas.
“Sudah Azzam, ayo masuk, sekarang sudah malam, berhentilah menangis,” ucap bibi sambil berusaha menarikku masuk ke rumahnya. Dan aku kalah.
“Tidur ya, sekolah barumu sudah menanti besok,” kata bibi sambil mengecup keningku.
Aku terkaget-kaget mendengar itu. Apa? Sekolah baru? Aku nggak mau! Pasti nilaiku jelek lagi, dan terus begitu sampai aku bakal dikirim lagi entah kemana itu sampai ada orang yang mengetahui bahwa aku sudah berusaha keras untuk belajar tapi hasilnya tidak memuaskan.
*****
Nilaiku benar-benar jelek. Aku tak tahu kenapa, tapi inilah hasilnya. Aku sudah belajar semalaman, dengan capainya, dengan sejuta peluh, tapi, hasilnya tetap sama. Selalu jelek. Nilai matematika yang aku dapat 57. Ya, aku sedih. Bagaimana tidak? Aku belajar tapi tak pernah sampai ke otak. Aku belajar tapi tak pernah mengerti. Dan mungkin akan terus seperti itu sampai aku tua. Tapi, aku berharap tidak. Tidak akan, tidak pernah sampai tua.
Pulang sekolah, aku belajar, setelah itu makan. Lalu belajar lagi, setelah itu sholat. Dan begitu seterusnya sampai aku benar-benar PUSING! Ayah tak peduli lagi denganku. Mereka pikir aku ini belajar sambil bermain-main jadi aku tidak fokus. Alhasil, mereka meninggalkanku begitu saja sampai saat ini.. Ketika terakhir kali aku mendengar ucapan ayah, dia bilang bahwa aku anak tidak tahu diri.
Sampai sekarang, ayah dan bunda belum juga menjengukku. Aku tak tahu, tapi, aku sangat rindu kepada mereka. Mungkin, sekarang mereka menyayangiku lagi atau bahkan tidak ingat aku. Ya, aku tidak tahu tapi, aku mengharapkan yang baiknya saja. Tapi, aku berharap mereka tidak akan pernah kesini lagi.
Aku senang karena aku pikir, lebih enak tinggal dirumah bibi daripada dirumahku sendiri. Karena, bibi lebih sayang padaku. Dia yang mengajarkanku berbagi hal yang menurutku luar biasa, dan dia yang selalu menyemangatiku walupun aku bodoh. Bibi belum punya anak, jadi memusatkan penuh perhatiannya kepadaku. Dan itu sangat membantuku.
“Walaupun nilaimu jelek, Bibi yakin, suatu saat nanti, kamu akan jadi yang terbaik diantara yang baik, berusaha terus ya Azzam,” nasehat bibi. Aku hanya mengangguk sembari mengulum senyum. Malam ini, aku akan belajar dengan sungguh-sungguh!
*****
Aku tertunduk lemas melihat mata bibi berkaca-kaca ketika melihat aku pergi. Aku sudah dijemput orang tuaku. Aku memang masih belum pintar tapi aku tak tahu kenapa, jadi, aku menurut saja karena aku sudah rindu pada mereka berdua.
“Besok, siap-siap ya, kamu mau dikirim ke asrama, biar kamu mandiri, biar pinter,” kata Bunda sambil memelukku erat. Aku tersentak kaget saat itu. Uh, asrama? Apa tidak salah?
Setelah sampai dirumah, aku harus bersiap-siap untuk pergi besok. Huh, aku bosan, kenapa harus diasrama? Bukankah masih banyak sekolah negeri yang bagus? Tapi, kenapa harus diasrama? Kesel deh!
Besoknya, ketika aku bangun, aku menempati bangku mobil. Persiapanku sudah lengkap. Jadi, aku sudah ada di mobil pagi ini untuk dikirim ke asrama. Huh, sebal!
*****
“Azzam!! Are you don’t learning at toninght hah?” tanya Mr. Amin sambil menatapku tajam. Ya, nilaiku 60. Naik sedikit, tapi, nilaiku yang terburuk disini. Biasanya, paling kecil untuk murid disini itu, 80.
“I’m sorry sir, I’m learning at toninght but, i don’t understand about this lesson,” jawabku pelan. Bahasa Inggrisku memang bagus tapi, untuk pelajaran lainnya, aku bingung. Termasuk, pelajaran yang sekarang aku pelajari. Matematika.
“If the next exam you have a bad score, you don’t can school in here again, don’t hope!” ancam Mr. Amin sambil membetulkan letak kacamatanya yang sedikit kebawah.
Ya Allah, semoga aku bisa, aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku ya Allah, aku nggak mau mereka terus-menerus kecewa, ya Allah, tolong aku, semoga aku bisa.
*****
“You must learning 5 hours for this toninght Azzam,” kata Ajri sambil membawakan aku buku pelajaran dan dia membantuku. Aku senang sekali karena ada yang peduli denganku.
“Always remember that,” kata Ajri lagi.
“Ok, I will remember that,” jawabku sambil tersenyum.
Kami belajar dengan sungguh-sungguh malam itu sampai aku ketiduran. Esoknya, aku langsung masuk ke kelas dan menyelesaikan ulangan dengan mudah. Kukira, pada waktu sebelumnya, AKU TIDAK BELAJAR SUNGGUH-SUNGGUH. Dan itulah yang membuat nilaiku jelek.
“I like this Azzam, you get good score,” kata Mr. Amin sambil menatapku bangga. Oh yeah! Aku bisa!
“I believe, you can get good score!” puji Ajri sambil tersenyum manis.
“Yeah. I believe too” kataku sambil keluar dari kelas Matematika. Akhirnya, aku percaya, aku bisa dapat nilai bagus.
*****
“Bunda bangga Nak,” kata Bunda sambil memelukku erat. Sedangkan ayah menatapku sambil menangis. Ya, dia mengaku salah padaku. Dan aku senang. Akhirnya, mereka mengakui bahwa aku bisa mendapat nilai yang baik. Ibu menyuruhku untuk pindah sekolah jika aku mau. Tapi, aku menolak karena aku mau disini saja. Dan tidak mau membuang uang lagi hanya untuk sekolah.



*****



Gimana temen-temen? Ceritanya rame nggak? Please commentttt pleaseeeeeeeeeeeee join grup ini juga ya!!! Bye!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar