Lagi-lagi, sepulang sekolah dengan bersemangatnya Mimi membantu Mama di dapur.
“Ma, Mimi bantu membuat pai cherry lagi, ya,” ujar Mimi sambil membantu Mama membuat adonan pai.
“Boleh. Kamu bantu Mama membuat adonannya dulu, ya. Oh iya, tumben kamu bantu Mama masak?” tanya Mama sambil mengusap lembut rambut Mimi yang panjang sebahu.
“Hehe, habisnya Mimi suka sekali sama pai yang Mama buat kemarin. Jadi, penasaran,” jawab Mimi sambil menyiapkan cetakan. Ia mencampur mentega, tepung, kuning telur, tepung terigu, garam dan beberapa sendok baking powder sesuai dengan arahan Mama.
“Wah, kelihatannya pai cherry -nya enak, nih, Ma,” celetuk Mimi sambil memasukkan adonan ke loyang. Setelah adonan dimasukkan ke loyang pai, Mama membantu Mimi memasukkannya ke dalam oven. Mimi dan Mama mengadu tos.
“Hihi, nanti pai ini mau aku bawa ke sekolah. Biar teman-teman bisa ikut mencobanya. Bolehkan, Ma?” usul Mimi.
“Boleh, dong,” jawab Mama. Setelah adonan dikeluarkan, Mama segera mengoleskan vla atau krim di atas painya dan tidak ketinggalan si merah buah cherry .
“Slurpp...” Mimi tergiur melihat pai buatannya dan Mama. Ia meraih sepotong dari baki yang ada di meja.
“Masakan Mama mengalahkan chef yang ada di teve, lho. Maknyuss…” puji Mimi.
“Mamanya siapa dulu, dong? Mamanya Mimi!” goda Mama sambil mencubit gemas pipi putrinya itu.
Esoknya, Mimi membawa bekal pai cherry buatannya dan Mama ke sekolah. Ia sudah tidak sabar membaginya dengan teman-teman.
“Dea, Andi, Manda, nanti cicip bekal aku, ya,” kata Mimi sambil menghampiri teman-temannya di kelas.
“Wah...tumben nih, Mimi mau bagi-bagi bekalnya,” celetuk Manda.
“Kebetulan, kemarin mamaku masak sesuatu…yang special tentunya,” kata Mimi setengah berbisik. Teman-temannya jadi penasaran.
“Yahh, Mimi kasih tahu sekarang, dong!” Andi kecewa.
“Eitss, nanti dulu dong biar jadi kejutan,” kata Mimi sambil menaruh tasnya di bangku kelas. Keempat sahabat itu melangkah keluar kelas, karena sebentar lagi sekolah akan mengadakan senam bersama.
"Teettt! Tettt!" Bel sekolah berbunyi. Anak-anak dari kelas satu sampai kelas enam berhamburan. Begitu pula kelas Mimi, kelas 4C.
“Mi, kamu masih ingat, kan, janjimu?” tanya Dea yang sudah tidak sabar mencicipi bekal Mimi. Wah..wahh..ketiga temannya sudah terlanjur tergiur dengan tawaran Mimi.
“Iya...iya, sabar. Kita ke kantin dulu, yuk!” ajak Mimi. Mereka mengisi bangku kosong yang ada di kantin. Lalu mereka makan bersama. Duh...duh...Andi ia langsung merebut kotak bekal Mimi.
“Biar aku yang buka, deh,” tawarnya. Deni datang dan segera bergabung bersama keempat sahabatnya itu.
“Ehh...ada apa, nih? Ramai sekali.” Deni kebingungan.
“Ini, nih. Mimi mau bagi-bagi bekal. Katanya spesial,” cerita Manda.
“Ya sudah, ayo kita makan sama-sama,” ujar Deni. Andi membuka kotak bekal Mimi. Untung saja, painya ada enam. Mimi berharap teman-temannya tidak kecewa.
“Wah...Mimi! Mama kamu pintar masak, ya?” tanya Dea.
“Iya, kemarin aku juga ikut bantu, kok,” jawab Mimi. Semua teman-temannya memuji kelezatan pai buatan Mimi dan mamanya. Mereka pun makan bersama.
“Ma, Mimi bantu membuat pai cherry lagi, ya,” ujar Mimi sambil membantu Mama membuat adonan pai.
“Boleh. Kamu bantu Mama membuat adonannya dulu, ya. Oh iya, tumben kamu bantu Mama masak?” tanya Mama sambil mengusap lembut rambut Mimi yang panjang sebahu.
“Hehe, habisnya Mimi suka sekali sama pai yang Mama buat kemarin. Jadi, penasaran,” jawab Mimi sambil menyiapkan cetakan. Ia mencampur mentega, tepung, kuning telur, tepung terigu, garam dan beberapa sendok baking powder sesuai dengan arahan Mama.
“Wah, kelihatannya pai cherry -nya enak, nih, Ma,” celetuk Mimi sambil memasukkan adonan ke loyang. Setelah adonan dimasukkan ke loyang pai, Mama membantu Mimi memasukkannya ke dalam oven. Mimi dan Mama mengadu tos.
“Hihi, nanti pai ini mau aku bawa ke sekolah. Biar teman-teman bisa ikut mencobanya. Bolehkan, Ma?” usul Mimi.
“Boleh, dong,” jawab Mama. Setelah adonan dikeluarkan, Mama segera mengoleskan vla atau krim di atas painya dan tidak ketinggalan si merah buah cherry .
“Slurpp...” Mimi tergiur melihat pai buatannya dan Mama. Ia meraih sepotong dari baki yang ada di meja.
“Masakan Mama mengalahkan chef yang ada di teve, lho. Maknyuss…” puji Mimi.
“Mamanya siapa dulu, dong? Mamanya Mimi!” goda Mama sambil mencubit gemas pipi putrinya itu.
Esoknya, Mimi membawa bekal pai cherry buatannya dan Mama ke sekolah. Ia sudah tidak sabar membaginya dengan teman-teman.
“Dea, Andi, Manda, nanti cicip bekal aku, ya,” kata Mimi sambil menghampiri teman-temannya di kelas.
“Wah...tumben nih, Mimi mau bagi-bagi bekalnya,” celetuk Manda.
“Kebetulan, kemarin mamaku masak sesuatu…yang special tentunya,” kata Mimi setengah berbisik. Teman-temannya jadi penasaran.
“Yahh, Mimi kasih tahu sekarang, dong!” Andi kecewa.
“Eitss, nanti dulu dong biar jadi kejutan,” kata Mimi sambil menaruh tasnya di bangku kelas. Keempat sahabat itu melangkah keluar kelas, karena sebentar lagi sekolah akan mengadakan senam bersama.
"Teettt! Tettt!" Bel sekolah berbunyi. Anak-anak dari kelas satu sampai kelas enam berhamburan. Begitu pula kelas Mimi, kelas 4C.
“Mi, kamu masih ingat, kan, janjimu?” tanya Dea yang sudah tidak sabar mencicipi bekal Mimi. Wah..wahh..ketiga temannya sudah terlanjur tergiur dengan tawaran Mimi.
“Iya...iya, sabar. Kita ke kantin dulu, yuk!” ajak Mimi. Mereka mengisi bangku kosong yang ada di kantin. Lalu mereka makan bersama. Duh...duh...Andi ia langsung merebut kotak bekal Mimi.
“Biar aku yang buka, deh,” tawarnya. Deni datang dan segera bergabung bersama keempat sahabatnya itu.
“Ehh...ada apa, nih? Ramai sekali.” Deni kebingungan.
“Ini, nih. Mimi mau bagi-bagi bekal. Katanya spesial,” cerita Manda.
“Ya sudah, ayo kita makan sama-sama,” ujar Deni. Andi membuka kotak bekal Mimi. Untung saja, painya ada enam. Mimi berharap teman-temannya tidak kecewa.
“Wah...Mimi! Mama kamu pintar masak, ya?” tanya Dea.
“Iya, kemarin aku juga ikut bantu, kok,” jawab Mimi. Semua teman-temannya memuji kelezatan pai buatan Mimi dan mamanya. Mereka pun makan bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar