Menulis jika dilakukan secara benar, tak ada bedanya dengan kegiatan bercakap-cakap (Laurence Sterne — novelis)
Banyak membaca saja tidak cukup. Itu kesimpulan saya setelah mendapat jawaban yang nyaris seragam dari para penulis senior. Waktu itu saya menanyakan bagaimana membuat tulisan yang menarik, pertama kalinya ngeblog.
Membaca baru merupakan langkah awal mengumpulkan data-data yang nanti akan memperkaya tulisan. Menyodorkan data-data mengenai pengalaman apa telah yang dilihat, didengar dan dipelajari apa adanya tentu saja kurang menarik. Ini tak ada bedanya dengan straight news di sebuah portal berita.
Terhadap suatu peristwa kita harus menafsirkan atau memaknainya dengan sudut pandang yang belum pernah di lakukan penulis lain. Misalnya waktu itu banyak orang berdemostrasi menolak perayaan valentine day. Tentu kurang menarik andai kita menuliskan hanya dengan menceritakan apa yang dilakukan para pendemo.
Membaca peristiwa itu Mumu telah menuliskannya dengan sudut pandang yang sangat unik. Dia menafsirkan, ulah para demonstran itu merupakan bentuk dukungan kepada pemilik modal. Karena peristiwa yang sebenarnya biasa-biasa saja itu akhirnya mengingatkan orang untuk segera berbondong-bondong berangkat ke mal membeli coklat.
Sebagai penulis yang baik harus kritis. Kalau perlu mempertanyakan semua hal. Ya, semua hal. Termasuk misalnya kenapa kau diciptakan sebagai laki-laki atau perempuan misalnya. Agak kurang waras? Mungkin.
Karena bisa saja apa yang tampaknya hanya gejala umum, bagaimanapun tidak begitu umum atau sebaliknya. Apa yang tampaknya sebagai sebab, sebenarnya adalah akibat (dan sebaliknya). Apa yang tampaknya saling berhubungan secara positif sebenarnya saling berhubungan secara negatif atau sebaliknya dan seterusnya
Andai sudah memilih sudut pandang yang tepat apa yang sebenarnya ingin kita sampaikan ke pembaca selebihnya tinggal menuliskannya. Just do it. Tumpahkan semua isi kepala sampai tuntas. Tak perlu memperhatikan pilihan kata, ejaan yang salah, susunan kalimat dan lainya.
Buruk? Tentu saja. Tugas berikutnya adalah mengedit. Inilah saatnya di tuntut untuk benar-benar berpikir. Kita harus bisa mengubah tumpahan itu menjadi tulisan paling indah versi masing-masing penulis.
Caranya kita harus pintar menyusun kalimat dengan baik. Artinya gunakan kalimat yang ringkas, pendek, jelas dan tak bersayap. Hingga pada sebuah kalimat nyaris tak ada kata-kata yang sia-sia.
Kita sekarang hidup di belantara teks, pembaca tak mau berlama-lama memboroskan waktu untuk membaca tulisan yang bertele-tele. Pembaca yang kritis akan terus melanjutkan membacanya atau tidak tergantung dari paragaf pertamanya.
Agar tak membosankan, hindari kata-kata yang terlalu biasa dan kurang kuat yang telah sering dipergunakan orang. Misalnya kata “membawa”, tentu akan lebih kuat jika kita menggantinya dengan “menjinjing” atau “memanggul misalnya.
Yang tak kalah pentingnya adalah detail. Detail yang pas akan memperkuat apa yang kita diskripsikan dalam tulisan. Namun harus hati-hati, detail yang tak sesuai dosis juga akan membuat pembaca segera mengklik link ke website lain.
Hal paling memalukan dilakukan oleh penulis adalah ketika dia berlindung di balik kalimat yang dianggapnya sakti, “..tak dapat dilukiskan dengan kata-kata”. Percayalah itu hanya dilakukan oleh penulis yang malas berpikir dan mencari tahu.
Meski memang benar, bahasa tak sanggup mewakili semua suasana atau perasaan seseorang. Namun tugas penulis adalah menyampaikan pesan sehingga pembaca mendapatkan sesuatu dari apa yang telah kita sampaikan.
Menulis itu tidak sulit, namun juga tak begitu mudahnya. Seperti profesi lain, bisa dipelajari. “Dan ini tak ada hubungannya dengan bakat, namun kompetensi”, kata Yayan Sopyan (pendiri Jakarta School).
—————————–
Tidak ada komentar:
Posting Komentar