Minggu, 07 Oktober 2012

Ini sudut pandang Mumu Rumputeki mengenai “Menulis itu Gampang”.


Arswendo Atmowiloto adalah orang yang paling bertanggung jawab atas meluasnya keyakinan bahwa menulis itu gampang. Masalahnya, keyakinan semacam itu sebenarnya tidak banyak membantu dalam praktiknya –kecuali sekedar menjadi jargon yang menghibur. Faktanya, menulis tetaplah sesuatu yang sulit, setidaknya bagi sebagian orang. Bagi sebagian yang lain lagi? Memang tidak sulit, melainkan “sangat sulit”. Oke, lupakan saja. Ketika kita “tiba-tiba” menghadapi suatu zaman yang memungkinkan semua orang bisa menjadi penulis (lewat teknologi blog), maka sudah tidak diperlukan jargon apapun dalam soal menulis itu sendiri. Sehingga, masalahnya sekarang tinggal, bagaimana menulis dengan bagus, itu saja. Kita sering memuji orang lain, atau sebaliknya, mendengar orang lain memuji kita, “Tulisan lu bagus deh!” Tapi, ketika diminta merumuskan tulisan yang bagus itu seperti apa, kita kelimpungan. Mungkin ini isyarat bahwa tulisan yang bagus memang tak ada rumusnya, atau tak perlu (atau tak bisa?) dirumuskan. Melainkan, hanya bisa dirasakan. Ah, tapi pernyataan seperti ini pasti bohong juga. Sebab, paling tidak secara teknis, pasti ada semacam kriteria atau katakanlah syarat-syarat yang harus dipenuhi agar sebuah tulisan bisa disebut bagus. Dan, kita mungkin memang harus merumuskannya, untuk memudahkan pemahaman dan praktik. Baiklah, mari kita coba rumuskan sama-sama. Nanti, yang keberatan atau tidak setuju langsung saja tunjuk jari. 1. Tulisan yang bagus adalah tulisan yang jujur, hasil dari penggalian yang tak henti terhadap gaya sendiri, dikembangkan dari kepekaan personal –sesuatu yang tidak bisa ditiru dari (dan oleh) orang lain, karena datang dari dalam diri. 2. Itu filosofinya. Praktiknya, tulisan yang bagus –dalam bahasa Srimulat– adalah tulisan yang “tunjep poin” alias langsung menukik ke pusat inti masalah, atau kadang bahkan langsung ke dampak suatu masalah. 3. Atau, kalau Srimulat terlalu ngocol untuk urusan menulis, saya pinjam rumusan kritikus sastra Nirwan Dewanto deh biar lebih puas: tulisan yang bagus itu dimulai dari tengah. Oke, sampai di sini, untuk sementara, kita sudah menemukan satu rumusan: menulis dari tengah. Artinya apa? Jangan pernah memulai tulisan dengan pernyataan-pernyataan atau klaim-klaim atau premis-premis yang klise. Kata Kholid Hussaini (penulis novel best seller “The Kite Runner”): hindari klise seperti kau menghindari penyakit menular. Contoh pembukaan tulisan yang klise: Seiring dengan kemajuan teknologi….atau, Di zaman globalisasi seperti sekarang ini…atau, Seperti kita ketahui bersama kita hidup di era informasi… Pangkas habis klise-klise seperti itu. Mengatakan sesuatu yang sudah teramat-sangat jelas hanya akan membuat perut kembung dan akhirnya muntah-muntah. Plis, jangan siksa pembaca tulisanmu! 4. Yang bagus itu bukanlah isinya, melainkan cara menyampaikannya. Menulis tentang pengalaman cinta pertama tidak lebih hina –atau pun lebih hebat– ketimbang misalnya kenangan seputar peristiwa G 30 S/PKI. Semua tema, materi, pengalaman, perasaan dan sebagainya punya tempat dan derajat yang sama dalam tulisan; yang membedakannya adalah bagaimana semua itu dituturkan. Ya, jadi, bagaimana semua itu “harus” dituturkan –agar menjadi tulisan yang bagus? – Gunakan sudut pandang yang berbeda, unik, orisinal, detail. Ibaratnya, melihat sebuah pohon dari atas batu dengan dari helikopter yang terbang tentu hasil penglihatannya akan berbeda. – Perkaya, pertajam dan perkuat dengan kosa kata yang terjaga. Banyak-banyaklah membaca puisi. Chairil Anwar, Rendra, Sitor Situmorang tentu wajib. Rekomendasi: Goenawan Mohamad, Dina Oktaviani. Lainnya: cari sendiri. – Beri sentuhan lain: humor nyaris selalu diperlukan. Kontradiksi-kontradiksi dan ironi-ironi memberikan kedalaman pada tulisan. Sinisme kadang-kadang membuat tulisan bercahaya seperti kristal. Sarkasme, bitchy bisa asik asal sesuai dosis. – Pertimbangkan aspek “visual” –yang memungkinkan pembaca seolah-olah “merasakan sendiri” atau “hadir”, dan bukannya sekedar memberi tahu mereka. dari blog www.sudutpandang.com ———————————

Tidak ada komentar:

Posting Komentar